Begitu pun bahan makanan terutama makanan instan yang habis di pasaran mengingat pabrik berhenti beroperasi. Akibatnya beberapa kali terjadi kerusuhan yang menelan korban jiwa.
“Untungnya, kasus kekurangan pangan ini tidak terjadi di perdesaan karena bahan pangan masih tersedia. Aapalagi warga terbiasa makan makanan yang tersedia di alam, tidak bergantung pada satu jenis bahan pokok,” kata Achmad.
Pakar tepung Mocaf ini menjelaskan, situasi tersebut dapat menjadi pelajaran bagaimana Indonesia harus mempersiapkan modal sosial dalam menghadapi bencana seperti Covid-19. Sebagai contoh sosialisasi pencegahan Covid-19 yang masif agar warga tahu bagaimana menjaga diri, ketegasan pemerintah melakukan lockdown atau PSBB.
Pelajaran lainnya yakni pentingnya diversifikasi pangan. Indonesia tidak boleh bergantung pada satu jenis bahan pangan, misalnya beras. Jika daerah penghasil beras berhenti beroperasi, krisis pangan bisa terjadi.
Pemateri kedua yakni Arifi Saiman, alumnus kampus Tegalboto yang kini menjadi Konsul Jenderal RI di New York, Amerika Serikat. Menurut dia, negara bagian New York telah menjadi episentrum pandemi Covid-19 di AS.