Masa Politik Pasca-kebenaran

Nur Wijaya Kesuma

Attkisson menjelaskan bahwa di balik sebagian besar cerita politik di era modern terdapat agenda dan kepentingan yang luar biasa untuk menghancurkan seseorang. Setiap hari, orang Amerika dipengaruhi oleh smear (upaya untuk merusak reputasi seseorang) tanpa menyadarinya. Trik smear sering didasarkan pada sedikit kebenaran yang dicampuradukkan dengan isu sensasional untuk mengaburkan kebenaran.

Sejumlah kasus pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2017 dan 2018 yang mencuat adalah mengemas isu agama dan isu identitas dalam sebuah politik dusta. Trik yang agak menjanjikan memang, tapi pasti akan menjadi sasaran balik yang berbahaya bagi kebhinekaan yang sudah kita pupuk sejak lama. Tapi, itulah gambaran politik masa kini. Strategi politik semakin dangkal, persaingan berebut kekuasaan semakin bising.

Fenomena pasca-kebenaran yang terjadi sejak pilkada serentak 2017 dan terus bergulir ke pilkada 2018, tampaknya akan terus menggelinding bak bola salju pada pemilu serentak 2019. Pesta demokrasi akan menjadi arena pertarungan yang harus diperjuangkan hingga tetesan terakhir. Layaknya pertarungan gladiator di bangunan Koloseum pada masa Romawi Kuno. Akankah kita biarkan demokrasi yang kita bangun sejak masa kebangkitan nasional menjadi punah demi syahwat politik?

Politik Pasca-kebenaran
Di Indonesia, salah satu fenomena politik pasca-kebenaran sangat tampak jelas adalah pilkada DKI Jakarta 2017. Penggiringan pasca-kebenaran dilakukan secara masif melalui media sosial, media online dan grup-grup percakapan, yang diarahkan pada fanatisme terhadap tokoh masyarakat dan politik. Sebagaimana yang disebut dengan interaksi parasosial oleh sosiolog Horton dan Wohl.

Politik pasca-kebenaran adalah sebuah budaya politik di mana perdebatan dibingkai sebagian besar oleh seruan terhadap emosi yang terputus dari substansi kebajikan. Tafsir terhadap fakta diolah menjadi kebenaran. Hoaks dan berita palsu (fake news) dinobatkan menjadi anak kandungnya. Sebaliknya, fakta objektif yang mengungkapkan kebenaran berubah menjadi anak tiri.

Editor : Zen Teguh
Artikel Terkait
Megapolitan
12 hari lalu

Partai Perindo Jakarta Audiensi dengan KPU DKI, Dorong Pendidikan Politik dan Representasi Bermakna

Nasional
15 hari lalu

Relawan Sebut Isu Ijazah Jokowi Sengaja Dibuat Panjang untuk Jatuhkan Pengaruh di 2029

Nasional
17 hari lalu

Prabowo soal Ganti Presiden: Ada Mekanismenya!

Nasional
1 bulan lalu

Prabowo Sentil Pengamat Tak Suka Pemerintah Berhasil: Kita akan Tertibkan, Saya Punya Data Intelijen

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal