JAKARTA, iNews.id - Nilai tukarrupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan, Rabu (2/9/2026). Rupiah anjlok 19 poin ke level Rp17.763 per dolar AS.
Pelemahan ini memperpanjang tren depresiasi mata uang garuda setelah sempat dibuka melemah di posisi Rp17.750 per dolar AS pada pagi hari, tertekan oleh menguatnya spekulasi kenaikan suku bunga bank sentral AS atau The Fed, serta lonjakan harga pangan domestik, dengan proyeksi pergerakan masih akan tertekan pada perdagangan besok.
Nilai tukar rupiah masih belum mampu keluar dari tren pelemahan di hadapan dolar AS seiring kian menguatnya ekspektasi pengetatan moneter global. Pernyataan agresif para pejabat The Fed di simposium ekonomi terkemuka memicu lonjakan spekulasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan pada pertengahan September mendatang.
"Sentimen eksternal dipicu retorika keras Ketua The Fed Kevin Warsh tentang inflasi di Simposium Jackson Hole, di mana CME FedWatch Tool kini mencatat probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan 15-16 September melonjak menjadi 65 persen dari 40 persen pada pekan sebelumnya," ujar Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Rabu (2/9/2026).
Di saat yang sama, tekanan internal muncul dari rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat kenaikan tajam harga komoditas pangan pada Agustus 2026, terutama pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.