Kondisi ini mendorong inflasi bulanan (month-to-month) menjadi 0,21 persen dari sebelumnya deflasi 0,14 persen, serta mengerek inflasi tahunan (year-on-year) ke level 3,19 persen dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,88 persen.
Di dalam negeri, lonjakan harga komoditas pangan pokok berpotensi menekan daya beli masyarakat serta memicu kekhawatiran terhadap stabilitas harga ke depan. Kendati demikian, laju depresiasi rupiah masih tertahan sebagian oleh kejutan kinerja neraca perdagangan yang mencatatkan surplus berkat penguatan sektor ekspor.
Dari sisi regulator domestik, Gubernur Bank Indonesia yang baru saja dilantik, Destry Damayanti menyampaikan optimisme jangka menengah dengan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2027 berada di kisaran 5,2 persen hingga 6,0 persen.
Bank sentral turut memperkirakan kurs rupiah pada tahun depan bergerak stabil di rentang Rp17.300 hingga Rp17.800 per dolar AS, inflasi terkendali dalam sasaran 2,5±1 persen, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap sehat, serta cadangan devisa tetap memadai dengan imbal hasil investasi yang menarik.
Pandangan optimis dari pucuk pimpinan bank sentral yang baru memberikan kepastian arah fundamental bagi stabilitas ekonomi makro nasional. Kerangka proyeksi yang terukur tersebut diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor terhadap daya tahan pasar keuangan domestik.