Untuk memastikan layanan kesehatan di sekitar 1.000 titik pengungsian tetap berjalan, Kemenkes juga menurunkan sekitar 4.000 relawan kesehatan dari berbagai institusi, termasuk TNI-Polri, rumah sakit pemerintah, perguruan tinggi, organisasi profesi, hingga lembaga kemanusiaan. Relawan tersebut ditempatkan bergilir setiap dua hingga tiga minggu, dengan jumlah sekitar 700–900 orang setiap periodenya.
Sejak awal Januari, penanganan memasuki tahap ketiga berupa pemulihan menyeluruh. Kali ini fokus diarahkan pada perbaikan alat kesehatan, ambulans, serta fasilitas penunjang lain yang rusak akibat banjir.
Hingga kini, ratusan ambulans telah diperbaiki berkat kerja sama dengan berbagai pihak swasta dan teknisi lapangan. Selain itu, laboratorium puskesmas yang rusak, termasuk fasilitas pemeriksaan TBC, juga mulai diperbaiki atau diganti.
Kemenkes juga melibatkan donatur untuk mempercepat pemulihan fasilitas yang membutuhkan pengadaan alat baru. Budi menegaskan, penanganan kesehatan pascabencana tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor dan tingginya solidaritas masyarakat menjadi kunci percepatan pemulihan.
“Belajar dari Covid, masalah kesehatan harus dikerjakan bersama. Modal sosial masyarakat Indonesia sangat tinggi, tugas kami adalah mengoordinasi dan memfasilitasi,” ucapnya.
Dengan pemulihan rumah sakit dan Puskesmas yang hampir rampung, Budi berharap layanan kesehatan di wilayah terdampak bencana Sumatera dapat semakin stabil dan siap mendukung proses pemulihan jangka menengah masyarakat.