Sementara itu, dalam sesi pleno mengenai rantai pasok, Indonesia menekankan pentingnya kepastian rantai pasok global dan penguatan sistem perdagangan multilateral.
Indonesia mengusulkan penguatan kesiapsiagaan menghadapi krisis dan kondisi darurat, penyediaan pembiayaan jangka panjang yang terjangkau, serta pembangunan kemitraan teknologi. Dengan demikian, negara berkembang diharapkan dapat berperan sebagai pencipta teknologi, bukan hanya pengguna.
“Rantai pasok harus memiliki lebih banyak pusat produksi, terutama di negara-negara berkembang,” ucapnya.
Di sela-sela pertemuan, Menlu Arrmanatha juga menggelar sejumlah pertemuan bilateral dengan para menteri luar negeri Turki, Rusia, Argentina, Meksiko, Inggris, Kanada, Jerman, India, Arab Saudi, dan Polandia. Dia turut mengadakan pertemuan dengan High Representative sekaligus Wakil Presiden Komisi Eropa, serta pertemuan pull-aside dengan Menlu Amerika Serikat, Australia, Jepang, dan Prancis.
Pertemuan Menteri Luar Negeri G20 tersebut merupakan bagian dari rangkaian Presidensi G20 Amerika Serikat 2026. Kegiatan ini dihadiri perwakilan dari 18 negara anggota G20, Uni Eropa, Uni Afrika, serta Polandia sebagai negara undangan tuan rumah. Sementara itu, Afrika Selatan tidak hadir.
Pada akhir pertemuan, Amerika Serikat selaku Presiden G20 mengeluarkan Chair's Statement yang merangkum pembahasan dan berbagai pandangan yang berkembang selama pertemuan.
Rangkaian Presidensi G20 Amerika Serikat akan mencapai puncaknya melalui Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Miami pada 14–15 Desember 2026. Setelah itu, kepemimpinan G20 akan beralih ke Inggris untuk tahun 2027.