Menurut Eti, penguatan ekosistem tersebut dapat dilakukan melalui kerja sama antara koperasi peternak dan kelompok tani. Dengan pola ini, petani dapat memperoleh kepastian pasar untuk hasil panen jagung, sedangkan koperasi peternak memiliki sumber pasokan bahan baku pakan.
“Ekosistem yang terbentuk ini sangat baik karena kami membutuhkan jagung. Petani mikro kecil kalau ditanam bersama, nanti petani yang menanam melalui gapoktan dan akan dibeli oleh koperasi kami. Apabila koperasi kami nanti sudah berkecukupan, itu bisa dibeli oleh Perum Bulog,” jelasnya.
Pola kemitraan tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan jagung bagi peternak. Eti berharap dukungan pemerintah terhadap peternak mikro dan kecil terus berlanjut, terutama saat harga telur tertekan dan pasokan pakan terbatas.
“Harapan kami semoga dengan ekosistem yang terbentuk ini, peternak mikro kecil bisa terus bertahan, bisa terus menjadi peternak yang tangguh,” katanya.
Eti juga berharap harga telur kembali berada pada kisaran harga acuan pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp24.000-Rp26.500 per kilogram.