“Di satu sisi pengangguran nasional turun, tetapi di sisi lain proporsi pengangguran sarjana justru meningkat. Ini sebuah kontradiksi yang harus kita baca secara serius. Jangan sampai keberhasilan menurunkan angka pengangguran nasional justru menutupi persoalan baru, yaitu semakin banyak tenaga kerja berpendidikan tinggi yang tidak terserap,” katanya.
Dia menilai kondisi tersebut perlu dilihat sebagai persoalan struktural, terutama terkait ketidaksesuaian atau mismatch antara pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja. Menurut dia, persoalan pengangguran sarjana tidak semestinya hanya dibebankan kepada lulusan.
“Jangan kita mengatakan sarjananya tidak punya kompetensi, tidak punya pengalaman, atau terlalu memilih pekerjaan. Kita harus melihat persoalan ini secara lebih adil dan struktural. Ada tanggung jawab universitas, dunia usaha, dan pemerintah,” tegasnya.
Tama menawarkan konsep “3 Link and Match” untuk memperkuat penyerapan lulusan perguruan tinggi. Skema tersebut mencakup tiga pihak, yakni kampus, dunia usaha, dan pemerintah.
Perguruan tinggi didorong memperkuat relevansi pendidikan dengan kebutuhan industri. Dunia usaha diminta menyediakan ruang magang, apprenticeship, hingga jalur rekrutmen. Sementara pemerintah perlu memastikan pertumbuhan ekonomi menghasilkan lapangan kerja berkualitas.