Peraih Nobel Ekonomi Ungkap Kunci RI Keluar dari Middle Income Trap, Apa Itu?

Rohman Wibowo
Ilustrasi pekerja. (Foto: iNews.id)

Namun, Howitt mengingatkan strategi mengejar ketertinggalan teknologi memiliki batas. Ketika suatu negara semakin dekat dengan garis depan teknologi global, pendekatan yang sebelumnya efektif belum tentu mampu mempertahankan pertumbuhan.

"Persoalannya muncul ketika Anda mendekati garis depan teknologi, di mana institusi dan kondisi yang tadinya menguntungkan bagi fase mengejar ketertinggalan tidak lagi kondusif. Keuntungan dari keterbelakangan itu telah habis, sehingga Anda harus mulai memproduksi inovasi garis depan," tutur Howitt.

Pada tahap tersebut, Indonesia perlu membangun ekosistem bisnis yang mendukung lahirnya inovasi baru. Howitt menilai perusahaan rintisan dan usaha yang lebih lincah memiliki peran penting dalam menghasilkan terobosan teknologi yang sulit dilakukan oleh perusahaan besar dengan struktur lebih kaku.

"Apa yang Anda butuhkan untuk berinovasi di garis depan bukanlah korporasi raksasa yang kaku, melainkan ekosistem yang menumbuhkan perusahaan-perusahaan kecil, lincah, dan agresif sebagai motor inovasi radikal. Pola ini terbukti di Amerika Serikat dan Eropa, di mana disrupsi terbesar selalu lahir dari perusahaan rintisan baru," ucap Howitt.

Editor : Rizky Agustian
Artikel Terkait
1 hari lalu

Pengusaha Hotel Sebut Dampak Ekonomi Konser Ye Langsung Terasa: Acara Kayak Gitu Bagus!

5 hari lalu

Ekonomi RI Diibaratkan Bom Waktu, Airlangga Tegaskan Fundamental Masih Solid

5 hari lalu

2 Tahun Pemerintahan Prabowo, Kepala Bakom: Ekonomi Tumbuh hingga Gaji Buruh Naik

6 hari lalu

2 Tahun Prabowo-Gibran, Ichsanuddin Noorsy Soroti Daya Beli Kelas Menengah Turun

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal