Dalam keterangannya kepada awak media, Tito menjelaskan Program Sekolah Rakyat lahir dari kepedulian Presiden Prabowo Subianto terhadap anak-anak yang belum memperoleh akses pendidikan secara layak.
Menurut dia, negara memiliki tanggung jawab memberikan perlindungan dan pendidikan kepada anak-anak sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945.
“Saya tahu bahwa ini keinginan dari Bapak Presiden dan betul-betul ini ide mungkin dari Bapak Presiden yang setahu saya karena dua faktor utama. Beliau memahami betul keinginan para pendiri negara bangsa Indonesia,” ujar Tito.
Tito mengaku mendapat penugasan langsung dari Prabowo untuk mengoordinasikan pemerintah daerah dalam menyiapkan lokasi pembangunan Sekolah Rakyat. Salah satu langkah yang ditempuh ialah mengoptimalkan aset pemerintah yang belum dimanfaatkan agar dapat digunakan sebagai lokasi penyelenggaraan pendidikan.
Dia menjelaskan, Sekolah Rakyat akan dibangun dengan desain seragam di seluruh Indonesia serta dilengkapi asrama, ruang kelas, ruang guru, dan lapangan olahraga. Program tersebut menyasar anak-anak dari keluarga desil 1 dan desil 2 atau kelompok masyarakat miskin serta miskin ekstrem.
“Diharapkan anak-anak yang bersekolah [di] Sekolah Rakyat ini yang diambil dari desil 1 dan desil 2, 20 persen rakyat yang miskin atau miskin ekstrem, tidak mampu, itu dipilih khusus untuk mereka agar mereka mendapat pendidikan yang baik, yang layak dan Insya Allah, semoga Tuhan memberkati mereka kemudian ke depan mereka akan lebih maju, lebih baik daripada orang tuanya,” pungkasnya.
Kegiatan itu turut dihadiri Staf Ahli Bidang Ketahanan Ekonomi Keluarga TP PKK Pusat Niken Tomsi beserta jajaran pengurus TP PKK Pusat, Wakil Gubernur Papua Aryoko Alberto Ferdinand Rumaropen, Bupati Biak Numfor Markus Octovianus Mansnembra beserta istri, Ketua DPRD Biak Numfor Daniel Rumanasen, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Biak Numfor.