Prabowo kemudian menyebut kelompok tersebut sebagai 'londo ireng', istilah yang menurutnya merujuk pada orang-orang Indonesia yang dahulu berpihak kepada Belanda dan melawan bangsa sendiri.
“Itu yang dulu kita sebut londo ireng, ya. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM,” kata Prabowo.
Prabowo juga mempertanyakan sumber pendanaan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM). “LSM harus kita tanya. Yang gaji lo siapa? Yang bayar listrik lo siapa? Yang bayar handphone lo siapa? Cari kerjaan susah, kita tahu kan,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Prabowo mengatakan pemerintah memahami adanya upaya untuk menggoyang kepercayaan publik terhadap kondisi Indonesia melalui berbagai narasi pesimistis. Dia mencontohkan berbagai prediksi yang menyebut Indonesia akan mengalami kolaps pada bulan-bulan tertentu, tetapi prediksi tersebut tidak terbukti.
“Jadi saudara-saudara kita paham ada kampanye besar untuk kita goyah. Indonesia akan kolaps, bulan April akan kolaps, eh April lewat nggak kolaps. Bulan Mei akan kolaps, bulan Mei lewat nggak kolaps. Bulan Juni akan kolaps, bulan Juli akan kolaps, tiap bulan akan kolaps,” katanya.
“Saya mau ngomong sesuatu tapi ada wartawan, nggak boleh. Tahan ya jangan sebut. Tadi saya bilang gelasmu, gelasmu boleh kan gelasmu? Gelas,” lanjut Prabowo.