Selain itu, Rahman juga menanggapi isu yang beredar di media sosial mengenai kemampuan driver ojol berbicara di depan publik. Banyak yang meragukan karena menganggap pengemudi ojol hanya berasal dari latar belakang pendidikan rendah. Namun menurut Rahman, anggapan tersebut tidaklah benar.
"Narasi yang beredar sekarang seolah-olah kami tidak berhak menggunakan kata-kata yang sifatnya intelektual seperti eskalasi atau edukasi. Perlu diketahui bahwa pengemudi ojol ini tidak hanya terdiri dari orang-orang yang lulusan SD, SMP atau SMA, tapi ada banyak juga yang merupakan lulusan S1 dan S2," ucap Rahman.
Kabar yang beredar juga sempat menyebutkan bahwa pengemudi ojol yang hadir dalam pertemuan tersebut tidak mewakili komunitas tertentu dan bahkan dituding sebagai intel karena penggunaan istilah-istilah yang dianggap militeristik. Rahman menjelaskan makna sebenarnya.
"Mengenai penggunaan kata-kata seperti taruna, itu hal yang lumrah dalam dunia perojolan. Taruna ini menunjukkan satu anggota komunitas yang tidak punya jabatan. Jadi disebut oleh para ketua komunitas sebagai taruna, bukan karena terkait dengan kemiliteran atau institusi tertentu," ujar Rahman.
Sebagai bagian dari klarifikasi, Gojek juga menegaskan bahwa kehadiran para driver dalam pertemuan tersebut adalah hasil undangan resmi dari pemerintah.