Dia menilai pengunduran diri Perry terjadi di tengah tekanan terhadap rupiah akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran. Ibrahim juga menyoroti adanya dugaan dorongan agar kebijakan moneter BI disesuaikan dengan arahan pemerintah.
“Ini membuat presiden, pemerintah dan DPR sering melakukan intervensi terhadap independensi Bank Indonesia,” ujarnya.
Selain faktor domestik, Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah juga dipicu eskalasi konflik geopolitik yang mengganggu jalur logistik energi global di Selat Hormuz. Kondisi tersebut ikut mendorong kenaikan harga minyak mentah.
Dia menjelaskan intensitas lalu lintas kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz dilaporkan menurun. Di sisi lain, arus pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb juga melambat setelah serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas minyak milik Arab Saudi.
Gangguan pada jalur perdagangan energi global tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi energi dan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Fed.
“Pasar sekarang melihat peluang sebesar 78 persen akan ada kenaikan suku bunga pada bulan September, sementara pada pertemuan 28-29 Juli, The Fed secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah,” pungkas Ibrahim.