Perkembangan pekan ini menunjukkan minimnya tanda-tanda meredanya konflik di Asia Barat, sehingga para pedagang tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan minyak lebih lanjut yang turut menopang harga minyak mentah.
Dari sentimen dalam negeri, penjualan ritel di Indonesia mengalami tekanan akibat melemahnya daya beli masyarakat yang membuat konsumen lebih memilih menahan belanja barang non-esensial atau non-pokok (discretionary) seperti pakaian, alat komunikasi, dan perlengkapan rumah tangga.
Penjualan ritel Indonesia turun 3,0 persen secara tahunan pada Juni 2026, melambat dari penurunan 3,9 persen pada bulan sebelumnya dan menandai penurunan paling ringan sejak penurunan dimulai pada April
Kemudian, pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) merilis data terbaru total utang pemerintah pusat, per Semester pertama tahun 2026, hingga 30 Juni 2026, nilai utang pemerintah pusat telah mencapai Rp 10.293,69 triliun.
Nilai itu membuat rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 41,26 persen. Nilai total utang pemerintah itu berasal dari hasil penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp8.966,79 triliun, dan pinjaman Rp1.326,90 triliun.
Sebelumnya, posisi utang pemerintah masih senilai Rp9.920,42 triliun sampai dengan akhir Maret 2026. Nilai utang tersebut setara dengan 40,75 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), atau masih jauh di bawah batas aman Undang-undang Keuangan negara yang sebesar 60 persen terhadap PDB.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.870-Rp17.940 per dolar AS.