Defisit pemerintah ditargetkan turun ke 2,7 persen terhadap PDB dibandingkan realisasi 2025 sebesar 2,82 persen dari PDB. Angka defisit itu dicapai berdasarkan pertumbuhan pendapatan yang kuat (14,4 persen) dan pengeluaran yang lebih tinggi (11,3 persen).
Meski demikian, para ekonom memiliki pandangan defisit akan di atas dari apa yang ditargetkan pemerintah. Untuk hasil yang realistis, dengan defisit 2,8-3,0 persen dari PDB, karena pertumbuhan pendapatan mungkin akan melambat dan reformasi pengeluaran terus berlanjut.
Pertumbuhan pendapatan negara diperkirakan satu digit. Meskipun demikian, pertumbuhan pendapatan akan didukung oleh peningkatan secara bertahap konsumsi dan investasi domestik, serta potensi dorongan dari harga komoditas global yang lebih tinggi.
Sementara dari sisi pengeluaran, berpotensi kembali kurang dari target, terutama dalam transfer ke daerah, karena pemerintah terus mereformasi kebijakan pelaksanaan anggaran.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 6 persen pada 2026. Menurutnya, angka tersebut tidak sulit tercapai karena pihaknya telah menyiapkan sejumlah strategi. Salah satu strateginya akselerasi anggaran, tujuannya agar belanja fiskal bisa digelontorkan di awal-awal tahun.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.860-Rp16.890 per dolar AS.