Memasuki hari terakhir perdagangan pekan ini, tekanan terhadap Rupiah belum mereda. Kenaikan biaya pinjam pemerintah (yield) terus berlanjut seiring dengan melemahnya nilai tukar saat pembukaan pasar.
“Memasuki perdagangan pagi hari Jumat (9/1/2026), rupiah dibuka melemah di level Rp 16.815 per dollar AS, diiringi kenaikan yield SBN 10 tahun ke level 6,15 persen,” tuturnya.
Meskipun yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun di pasar global terpantau turun ke level 4,167 persen, penguatan indeks dolar AS tetap menjadi sentimen utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.
BI diprediksi akan terus berada di pasar untuk memastikan volatilitas tetap terjaga melalui langkah-langkah intervensi jika diperlukan guna menjaga stabilitas moneter nasional.