Ia juga menjelaskan akar persoalannya terletak pada kualitas keimanan. Iman tidak cukup hanya diucapkan melalui dua kalimat syahadat, tetapi harus bersemayam dalam hati dan tercermin dalam perilaku sehari-hari.
"Iman bukan sekadar di bibir dengan mengucapkan syahadat. Iman harus masuk ke dalam hati, menghidupkan kesadaran, membentuk akhlak, dan melahirkan amal saleh," tegasnya.
Lebih lanjut, Said Aqil menjelaskan qalb (hati) memiliki beberapa tingkatan yang menggambarkan kedalaman spiritual seseorang.
Tingkatan pertama adalah bashirah, yaitu penglihatan batin yang membuat seseorang mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara yang baik dan yang buruk. Bashirah menjadi cahaya hati yang membimbing manusia dalam mengambil keputusan yang benar.
Tingkatan berikutnya adalah dhamir atau hati nurani. Pada tingkat ini, hati tidak hanya mengetahui mana yang benar, tetapi juga mendorong seseorang untuk melaksanakan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran.