Sejarah Masjid Istiqlal, Masjid Terbesar di Asia Tenggara

Satrio Bintang Hutomo
Masjid Istiqlal merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara (Foto: M Refi Sandi)

JAKARTA, iNews.id - Sejarah Masjid Istiqlal yang menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara cukup penting untuk kita ketahui. Masjid Istiqlal memiliki berbagai nilai penting dalam sejarah bangsa Indonesia.

Selain nilai sejarah, Masjid Istiqlal tentunya juga memiliki nilai ilmu pengetahuan, pendidikan dan juga keagamaan. 

Sejarah Masjid Istiqlal

Diawali dengan ide pembangunan masjid yang akhirnya dibicarakan serius oleh Menteri Agama KH Wahid Hasyim setelah empat tahun proklamasi kemerdekaan.

Pembangunan masjid agung merupakan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia karena umat Islam ikut ambil peranan. Maka dari itu mereka menamakannya Istiqlal, diambil dari bahasa arab yang berarti 'merdeka'.

Sejarah Masjid Istiqlal dimulai pada tahun 1953, diadakan pertemuan antara KH Wahid Hasyim dan H Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto dan Ir Sofwan serta beberapa tokoh Islam pimpinan KH Taufiqorrahman di Deca Park, sebuah gedung pertemuan di Jalan Merdeka Utara, tidak jauh dari Istana Merdeka dan dipimpin oleh KH Taufiqurrahman.

Dalam pertemuan tersebut dibentuklah yayasan Istiqlal yang berperan sebagai panitia dalam pembangunan masjid Istiqlal, yang disahkan langsung oleh Presiden Soekarno pada 7 Desember 1954.

Rapat tersebut juga membahas tentang penentuan tempat atau lokasi akan dibangunnya masjid Istiqlal. Pada saat itu terjadi perbedaan pendapat yang dapat merubah sejarah Masjid Istiqlal.

Wakil Presiden Mohammad Hatta yang saat itu hadir, memiliki pendapat bahwa lokasi yang paling tepat adalah di Jl Moh Husni Thamrin, karena merupakan lingkungan yang ditempati oleh banyak masyarakat Muslim pada saat itu.

Sementara Ir Soekarno mengusulkan bahwa pembangunan lebih baik dilakukan di Taman Wihelmina, yang di bawahnya terdapat reruntuhan benteng Belanda dan dikelilingi oleh pusat-pusat perdagangan serta posisinya yang dekat dengan Istana Merdeka.

Pendapat Moh Hatta pada saat itu akan akan lebih menghemat biaya, karena lahannya yang masih kosong, maka tidak diperlukan pengeluaran untuk melakukan penggusuran.

Namun setelah dilaksanakan musyawarah, akhirnya sepakatlah mereka untuk menggunakan usul dari Ir Soekarno, yaitu di Taman Wilhelmina yang sekarang dikenal dengan Taman Wijaya Kusuma, tepat di samping Gereja Katedral, dan merupakan sebuah momen penting dalam sejarah Masjid Istiqlal.

Dalam penentuan desain, Presiden Soekarno meminta agar diadakan sayembara maket Masjid Istiqlal. Dewan juri pun terdiri dari Presiden Soekarno sebagai ketua, dan beranggotakan Ir Soeseno, Ir Djuanda, Ir Suwardi, Ir R Ukar Bratakusumah, Rd Soeratmoko, H Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), H Abu Bakar Aceh, dan Oemar Husein Amin.

Editor : Muhammad Fida Ul Haq
Artikel Terkait
Internasional
5 jam lalu

Saudi Larang Fasilitas Umum termasuk Masjid Diberi Nama Raja dan Pemimpin Negara Lain

Nasional
3 hari lalu

Antusiasme Warga Bekasi Ikut Majelis Taklim Cahaya Hati Indonesia di Masjid Istiqlal

Nasional
3 hari lalu

Potret Menag dan Ratusan Jemaah Sujud Syukur Sambut Tahun 2026 di Masjid Istiqlal 

Nasional
3 hari lalu

Masyarakat Harap Cahaya Hati Indonesia Jadi Agenda Rutin Akhir Tahun

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal