Karena itu, kebijakan tersebut harus diubah menjadi kebijakan yang mampu menembus pasar internasional dengan daya saing industri yang kuat, berorientasi ekspor, serta memanfaatkan investasi dan supply chains global. Hanya dengan memperhitungkan kembali peran sektor luar negeri melalui kebijakan yang tepat, tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi bisa diwujudkan.
Pertumbuhan ekonomi tidak akan lebih tinggi dari yang dicapai sekarang jika kondisi tersebut tidak berubah. Ini harus disadari karena faktor ekspor belum menjadi growth engine yang cukup kuat untuk mendorong transformasi industri. Padahal, bagi negara sebesar Indonesia, pasar domestik memang penting, tetapi pasar domestik saja tidak cukup untuk menghasilkan industrialisasi berkelas dunia. Untuk menuju ke sana, tidak ada jalan lain kecuali mengelola sektor luar negeri dengan kebijakan yang berorientasi ekspor.
Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar memang mempunyai pasar domestik yang besar pula. Namun, masalahnya bukan hanya mengandalkan konsumsi domestik yang besar, melainkan bagaimana dunia usaha Indonesia mampu naik kelas karena dipaksa dan diberi kesempatan untuk bersaing di pasar global. Di sinilah kebijakan outward looking menjadi penting karena dapat mendorong Indonesia eksis dalam persaingan global, dengan harapan memperoleh devisa yang besar.
Indonesia pernah mempunyai best practice strategi outward looking, seperti pada 1980-an ketika negara mendorong investasi dan industri yang berorientasi ekspor. Pada dekade tersebut, kebijakan outward looking menghasilkan pertumbuhan ekonomi 7-8 persen selama dua dekade. Jadi, pemerintah cukup mengulangi kebijakan yang pernah berhasil mengangkat pertumbuhan ekonomi tinggi tiga dekade lalu. Belanja pemerintah tidak bisa diandalkan untuk mencapai pertumbuhan tinggi.
Selama ini, belanja pemerintah tidak akan langgeng karena hanya menjadi penyangga agar pertumbuhan ekonomi tidak jatuh di bawah 5 persen. Apalagi, fiskal juga memiliki masalah dari sisi penerimaan maupun pengeluaran sehingga tidak akan bertahan lama dan hanya bisa menyangga pertumbuhan dalam jangka yang sangat pendek. Sementara itu, faktor konsumsi masyarakat sudah tidak bisa diandalkan karena kelas menengah telah tergerus dan jumlahnya menurun sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi masyarakat.