Dia menambahkan, kondisi tersebut membuat informasi beredar sangat cepat dan tanpa batas. Karena itu, masyarakat kerap menerima berbagai jenis konten, mulai dari fakta, opini hingga propaganda yang berpotensi memperkeruh suasana.
Syafril mengingatkan risiko informasi yang tidak akurat dapat memunculkan persepsi keliru di masyarakat. Bahkan, informasi palsu atau hoaks berpotensi menimbulkan keresahan dan memengaruhi kehidupan publik.
“Risiko informasi yang tidak akurat itu tentunya bisa membuat persepsi keliru bagi orang yang mendengarkan, yang menerima. Kemudian kalau itu berupa hoax, itu bisa juga menimbulkan keresahan bagi yang menerima,” ujarnya.
Dalam menjalankan fungsi komunikasi publik, Syafril menilai humas harus melakukan verifikasi terhadap data dan fakta sebelum menyampaikan informasi kepada masyarakat maupun media.
Selain verifikasi, dia menekankan pentingnya penyampaian informasi secara utuh agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Namun, humas juga harus memiliki kemampuan untuk memilah informasi yang dapat dipublikasikan dan yang perlu dibatasi sesuai kepentingan institusi.