“Saya pengalaman dengan gerak sejarah. Ini ada upnormal di masyaraka saat ini. Ini ada delo Pati, Madura deko lagi ikut demo tandingan. Ah ini sudah kayak Pamswakarsa 98 nih. Pasti kalah yang preman,” tutur Budi Arie.
“Sebab maksud saya terjadi anomali-anomali, variabel di masyarakat yang membuat kita tidak hanya memikirkan skenario konvensional, langkah-langkah tahapan-tahapan yang sebagaimana mestinya. Itu terjadi yang menurut pendapat saya terjadi patahan sejarah. Gimana tahun 90 tiba-tiba pemilu berikutnya tahun 99,” imbuhnya.
Menurut Budi Arie, kemungkinan percepatan politik tersebut tetap perlu diperhitungkan dengan melihat keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi.
“Potensi itu bukan tidak ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi saat ini yang betul-betul tidak membuat masyaraa happy,” kata Budi Arie.
Dia kemudian meminta para relawan tidak hanya berfokus pada skenario politik menuju 2029, tetapi turut mempertimbangkan kemungkinan lain.