Dia menuturkan, prioritas keempat menitikberatkan pada pendekatan berbasis masyarakat dan kearifan budaya. Indonesia mendorong perpaduan ilmu pengetahuan modern dengan pengetahuan lokal, salah satunya tercermin dalam sistem irigasi Subak di Bali yang telah diakui UNESCO.
"Keempat yakni pendekatan berbasis masyarakat dan kearifan budaya. Mengintegrasikan sains modern dengan pengetahuan lokal, sebagaimana tercermin dalam sistem irigasi Subak di Bali yang telah diakui oleh UNESCO," ucapnya.
Untuk mendukung keempat prioritas tersebut, dia memperkenalkan konsep Tobat Ekologis sebagai ajakan mengubah hubungan manusia dengan alam. Konsep ini, menurut dia, bukan sekadar penyesalan atas kerusakan lingkungan, melainkan dorongan untuk menghentikan praktik yang merusak dan beralih pada upaya perlindungan serta pemulihan alam.
"Tobat Ekologis bukan sekadar ungkapan penyesalan atas kerusakan lingkungan. Ini merupakan seruan untuk melakukan transformasi menyeluruh dalam cara kita berinteraksi dengan alam, beralih dari pola pikir eksploitasi menuju pola pikir yang mengedepankan harmoni, perlindungan, dan persaudaraan dengan semua makhluk hidup," katanya.
Dia menyampaikan, lima langkah dalam penerapan Tobat Ekologis, yakni mengevaluasi dampak aktivitas masa lalu, menghentikan praktik yang merusak, memperbaiki kebiasaan dan kebijakan, memulihkan ekosistem, serta menerapkan praktik berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari dan tata kelola pemerintahan.