Dulu permainan tradisional ini cukup popoler di tanah Pasundan. Bahkan permainan ini pun tidak mengenal musim, meskipun ramai dimainkan anak-anak ketika musim kemarau.
Alat permainan tradisonal ini dibuat dari bambu, dengan batang kecilnya bagian ranting tetapi dipakai yang sudah tua dan kuat. Pembuatannya yaitu mula-mula mencari beberapa ranting bambu yang bersifat lentur, yang mempunyai diameter bambu 1-1,5 cm dengan lubang 3-5 mm panjang yang dipakai adalah dari 20-30 cm. Bambu tersebut harus lurus agar lebih awet karena tidak mudah patah.
Biasanya mencari ruas yang agak panjang untuk dua bagian dari bebeletokan dengan bawah yang panjang 30 cm untuk penampang dan yang bagian atas untuk pegangan yang di pakai sampai bagian "buku" batas ruas dari bambu itu.
Bagian pegangan pada lubangnya ditempatkan sebatang bambu dari bagian bambu besar yang diraut sampai bisa masuk bagian penampang bawah tadi dengan panjang disesuikan dengan panjang penampang tetapi dipotong pada ujung sepanjang 1 cm. Setelah dimasukan pegangan dan penampang seolah bersatu kembali disatukan oleh bagian dalamnya.
Cara memainkannya adalah dengan memasukan daun-daunan atau kertas basah yang dihancurkan pada lubang dan ditekan dengan pegangan pada pemasukan kedua akibat tekanan dari atas, udara keluar dipaksa dan daun yang pertama dimasukan tadi akan keluar dengan mengeluarkan bunyi "tok".
3. Sondah atau Engklek
Hampir di setiap daerah di tanah air memiliki jenis permainan tradisional ini. Kotak yang dibuat pun bermacam-macam bentuknya. Ada yang dinamai sondah palang, kincir, rumah, lingkaran dan lainnya. Meski bentuk dari permainan sondah berbeda-beda, namun aturan yang disepakati nyaris sama. Hanya istilah bahasa yang membedakan.