Tradisi Siraman Panjang merupakan bagian dari rangkaian budaya Keraton Kacirebonan yang digelar setiap satu tahun sekali menjelang malam panjang jimat. Dalam prosesi tersebut, tujuh piring jimat yang dipercaya sebagai peninggalan Sunan Gunung Jati dicuci dan disucikan menggunakan air kembang.
Piring jimat pertama dibawa oleh Putra Mahkota Keraton Kacirebonan, Elang Raja Muhamad Kusuma Natadiningrat. Sementara enam piring lainnya dibawa oleh keluarga keraton.
Sultan Keraton Kacirebonan IX Pangeran Raja Abdulgani Natadiningrat mengatakan, tradisi tersebut memiliki makna spiritual bagi masyarakat.
"Mengandung makna tersirat bagi kita umat Islam agar menjadikan kita ini insan yang soleh," katanya.
Meski sempat terjadi kepadatan akibat antusiasme warga yang berebut air siraman, tradisi Siraman Panjang tetap berjalan dan menjadi salah satu warisan budaya yang terus dijaga. Bagi masyarakat yang mengikuti tradisi tersebut, kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari penghormatan terhadap peninggalan sejarah, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat nilai spiritual dan kebersamaan.