"Bertanam itu juga budaya. Dengan bertani, otomatis belajar welas asih, gotong royong, dan kearifan lokal lainnya," katanya.
Di tengah pandemi Covid-19, Agung Bakar memang berniat ingin menanam palawija. Kebetulan, Agung Bakar baru saja menyewa areal pertanian milik tetangganya beberapa waktu lalu. Tanaman tersebut dianggapnya sangat dibutuhkan warga untuk mendukung imunitas di tengah pandemi Covid-19.
"Semoga dengan cara seperti ini, bisa menginspirasi anak-anak muda dan petani lain. Bahwa bertani itu dapat dilakukan dengan hati riang gembira. Bertani tak hanya melulu soal menangani hama tikus dan wereng. Petani itu tetap bisa nyeni dalam kondisi apa pun" katanya.
Artikel ini telah tayang di Solopos.com dengan judul "Bukan Crop Circle, Ladang Di Klaten Ini Berbentuk Obat Nyamuk"