Namaku Layla dan Aku Lebih Mulia dari 1.000 Bulan

Kastolani Marzuki
Umat Islam berlomba-lomba mendapatkan malam Laylatul Qadar di malam-malam ganjil Bulan Suci Ramadan. (Foto: Okezone)


Kalau cuma sekali, buat apa Rasulullah menyarankan umatnya untuk mencarinya pada 10 malam terakhir di bulan suci? Lantas pada malam keberapa aku akan hadir menemui kalian?

Ada jawaban yang berbeda. Al-Hasan al-Bashri mengatakan Laylatul Qadr datang pada malam ke-17 Ramadan. Ulama lain, Anas menyebutnya pada malam ke-19. Sedangkan Muhammad bin Ishaq menyebut pada malam ke-21, Ibn Abbas menyatakan Laylatul Qadr hadir pada malam ke-23.

Ulama lainnya, Ibn Mas’ud menyatakan pada malam ke-24, Abu Dzar di malam ke-25, Ubay bin Ka’ab dan jamaah sahabat menyebut pada malam ke-27. Sedangkan ulama dan sahabat lainnya menyatakan pada malam ke-29.

Dosen Senior Monash Law School ini mengatakan, perbedaan pandangan sahabat Nabi dan ulama di atas merupakan ijtihad mereka untuk mencari keberadaan diriku.

“Semua usaha sungguh-sungguh akan mendapatkan pahala ijtihad, yaitu kalau benar dapat dua pahala, kalau salah pun, tetap dapat satu pahala. Enak kan?,” katanya.

Bagaimana mungkin ibadah yang dijalankan pada malam itu, sama sebagaimana dijalankan pada malam lainnya, tapi kok nilainya bisa lebih dari seribu bulan? Bagaimana penjelasannya?

Menurut Tafsir ar-Razi, dapat saja satu amalan yang pada lahirnya sama dengan amalan yang lain, bahkan mungkin pada lahirnya kurang, tetapi bisa mendapat nilai tambah dibanding dengan amalan serupa.

Contohnya, salat yang sama jika dilakukan berjama’ah bisa mendapat pahala 27 kali lebih banyak dibanding shalat sendirian. Padahal shalatnya sama, bacaan dan gerakannya juga sama.

Begitu juga dengan makmum yang terlambat (masbuk) dapat langsung rukuk bersama imam tanpa membaca Al-Fatihah, namun pahalanya 27 kali lebih banyak ketimbang salat sendirian yang sempurna dengan bacaan Al-Fatihah.

Inilah penjelasan kenapa ibadah yang sama namun dilakukan di malam yang mulia, maka nilainya bisa melebihi seribu bulan. Namaku Layla. Aku lebih mulia dari seribu bulan. Semoga aku bertemu dengan kalian.

Nadirsyah Hosen

(Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen senior Monash Law School)

Editor : Kastolani Marzuki
Artikel Terkait
7 tahun lalu

Kata Gus Nadir Didukung Netizen Jabat Menteri Agama: Saya Tidak Tahu Menahu

7 tahun lalu

Trailer The Santri Muslim Masuk Gereja Disebut Murtad, Begini Kata Gus Nadir

8 tahun lalu

Kereta Serayu Pagi Jurusan Purwokerto-Pasar Senen Anjlok di Nagreg

8 tahun lalu

Terduga Pelaku Bom Disebut Sempat Hilang dari Rumah

8 tahun lalu

H-2 Lebaran Arus Lalu Lintas ke Jateng Lancar, Ciputat- Pejagan 3 Jam 15 Menit

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal