Agar makanan lokal yang diunggulkan Kota Salatiga bisa mengangkat pariwisata dan menjadi meal experience tourism, lanjut Sandiaga, maka kualitas harus ditingkatkan. Begitu juga dengan kualitas pelayanan harus disempurnakan, kebersihan dan kesehatan menjadi yang prioritas utama, suasana yang menyenangkan, harga yang terjangkau dan ada cerita di balik makanan.
“Itulah strategi inovasi yang harus kita kembangkan dalam customer journey on digital platform. Strategi adaptasi dan kolaborasi harus kita tingkatkan, apalagi kita saat ini sedang berada di tengah pandemi,” ucapnya.
Wali Kota Salatiga Yuliyanto mengatakan, pihaknya kini tengah mengikuti kompetisi jaringan kota kreatif dunia yang diselenggarakan oleh UNESCO. Ini untuk memperkenalkan Kota Salatiga, sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang kaya sejarah dan kuliner tradisional yang melegenda.
“Salah satu makanan tradisional Kota Salatiga telah tertulis dalam Serat Centhini, yang menyatakan jika kuliner Sambal Tumpang telah ada sejak Tahun 1914 sampai 1923. Atas dasar itu, dari tujuh sektor yang ada di kota kreatif dunia, Kota Salatiga memutuskan untuk memilih sektor gastronomi tanpa melepaskan dari pengaruh sejarah sebelumnya,” kata Yuliyanto.
Selain itu, sebagai kota yang multi etnis serta memiliki kuliner yang sangat beragam. Dari total 14.440 UMKM yang terdaftar di Kota Salatiga, 6.178 di antaranya merupakan UMKM berbasis kuliner.