“Karena itu satu untuk perekat. Kemudian yang kedua menunjukkan antara putih dan hitam itu menyatu. Itu jadi satu. Jadi mesti ada jadahnya juga harus ada wajiknya atau ada jenangnya,” ucapnya.
Sementara itu, warga Dusun Wates, Gunawan Tri Rahmadi menuturkan bahwa Saparan merupakan peringatan merti dusun atau hari jadi desa yang rutin digelar setiap bulan Sapar berdasarkan penanggalan Jawa.
“Kalau Saparan ini ibaratnya hari jadi, hari jadi desanya sendiri itu kan pas mereka rata-rata jatuh di bulan Sapar. Makanya disebut Saparan,” kata Gunawan yang juga anggota DPRD Kabupaten Semarang.
Menurutnya, setiap dusun memiliki hari pelaksanaan yang berbeda. Khusus Dusun Wates, tradisi Saparan digelar setiap Senin Kliwon pada bulan Sapar.
“Dusun Wates ini harinya Senin Kliwon. Jadi setiap bulan Sapar, Senin Kliwon ini yang kita ambil sebagai hari merti dusunnya,” ujarnya.