Namun, proses penggalian belum menemukan jasad meski lubang makam telah mencapai kedalaman sekitar tiga meter. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan usia makam yang telah mencapai ratusan tahun sehingga jasad di dalamnya kemungkinan sudah tidak utuh atau telah hilang.
Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Tulungagung, Haryadi menilai keberadaan makam tersebut menarik dari sisi sejarah. Salah satu petunjuknya terlihat pada bentuk nisan yang disebut memiliki gaya Tembayat atau Bayat.
Menurut Haryadi, karakteristik nisan tersebut umum ditemukan pada periode peralihan dari kebudayaan Hindu-Buddha menuju perkembangan awal Islam.
“Nisan menyerupai kelir atau gunungan, dengan bagian atas melebar. Bentuknya menyerupai gunungan dalam pewayangan atau kurawal makara kuno,” ucapnya.
Nisan tersebut dibuat dari batu andesit dengan permukaan yang memperlihatkan guratan kasar bekas pahatan manual. Pada bagian bawah, nisan diduga berdiri di atas umpak batu berbentuk persegi dan bertingkat.