Motivasi terbesar para perempuan tangguh ini terjun langsung ke lapangan bukan sekadar panggilan tugas, melainkan pengalaman emosional melihat keluarga mereka sendiri menjadi korban dari paparan asap.
Roro menceritakan anaknya sempat mengalami sakit batuk dan pilek akibat menghirup udara beracun hasil pembakaran lahan. Hal tersebut memacunya untuk bergerak ketimbang sekadar berdiam diri di rumah.
"Kami berharap orang-orang yang dengan sengaja membakar lahan bisa sadar akan bahayanya. Karhutla ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi menyiksa kesehatan anak-anak kita dan melumpuhkan aktivitas warga," kata Roro.