Pernikahan ini seharusnya menjadi momen bahagia, tapi justru menjadi pemicu utama tragedi. Aditya sering kali terlihat sibuk dengan persiapan nikah, tapi tak seorang pun tahu bahwa dia nekat mencari jalan pintas untuk membiayai semuanya.
Sebagai ASN golongan rendah di BPS, gaji Aditya diperkirakan berada di kisaran standar pegawai negeri, sekitar Rp4-6 juta per bulan, tergantung tunjangan daerah terpencil seperti Halmahera. Namun, ini tidak cukup untuk menutupi gaya hidupnya yang boros, apalagi dengan beban utang yang terus bertambah.
Banyak kasus serupa menunjukkan bagaimana pinjol dengan bunga tinggi bisa menjerat orang-orang berpenghasilan tetap, dan Aditya menjadi salah satu korban dari jebakan itu. Latar belakangnya yang sederhana, tanpa dukungan finansial kuat dari keluarga, semakin memperburuk situasi.
Kisah tragis ini dimulai pada pertengahan Juli 2025, ketika Aditya Hanafi kembali ke Halmahera Timur sendirian setelah mempersiapkan pernikahan di Ternate. Pada 16 Juli, dia mendatangi Karya Listiyanti Pertiwi, atau yang akrab disapa Tiwi, seorang rekan kerja berusia 30 tahun yang tinggal serumah dengan calon istrinya, Almira.
Aditya meminta pinjam uang sebesar Rp30 juta untuk biaya nikah, tapi Tiwi menolak dengan sopan. Penolakan ini tampaknya menjadi titik balik yang membuat Aditya gelap mata.