“Kemudian di Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Ogan Komering Ulu (OKU), Musi Rawas, OKU Timur, Musi Rawas Utara dan Banyuasin,” kata dia.
Potensi Karhutla terjadi karena wilayah tersebut memiliki lahan gambut, kebakaran sendiri timbul akibat ulah manusia yang masih membuka lahan dengan cara membakar (sonor) dan dengan cepat dapat meluas jika ditiup angin kencang pada kondisi udara kering.
"Secara umum kami sudah siapkan upaya-upaya pengendalian Karhutla, seperti penambahan citra satelit untuk memantau titik api," kata dia.
Jika pada 2019 Satgas Sumsel mengandalkan tiga satelit (Aqua, Landsat-8, dan NOAA), maka pada antisipasi Karhutla 2020 satgas mengandalkan lima satelit yakni Aqua, Landsat-8, NOAA, SNPP dan Terra.
"Banyaknya satelit akan mempertajam akurasi titik api sehingga lebih cepat diverifikasi pos pemadam setempat dan segera dipadamkan," kata Ansori.