Hal ini disebabkan tingginya konsentrasi partikel halus (PM2.5) dari sisa pembakaran hutan yang masih mengendap di udara ambient.
Masyarakat berharap intensitas hujan kembali meningkat dalam beberapa hari ke depan agar seluruh sebaran titik api (hotspot) karhutla di wilayah Kalimantan Tengah dapat padam secara total dan kualitas udara kembali normal.