Bahkan baru setengah panjang landasan, pesawat sudah bisa berhenti tanpa melakukan pengeremen secara maksimal. “Memang ada cross wing, tetapi tidak begitu mengganggu. Pendaratan mulus,” ucap Kapten Teguh Kristiono.
Di Bandara YIA, kata dia, obstackle yang ada tidak begitu banyak sehingga memudahkan dalam proses pendaratan. Bandara juga belum padat tidak seperti di Adisutjipto yang sangat padat. Runway juga cirasakan cukup bagus sudah sesuai dengan Standar internasional. “Kalau di sini (YIA) bisa lebih cepat karena traffic-nya belum begitu padat,” ujarnya.
Pelaksana tugas sementara (Pts) General Manager Bandara YIA, Agus Pandu Purnama mengaku bangga dengan adanya uji coba operasional. Hal ini menjadi salah satu uji coba kesiapan maskapai untuk mengoperasionalkan rute baru.
“Proving flight ini menjadi bukti kesiapan infrastruktur sisi udara bandara YIA yang mendukung keselamatan dan keamanan pengoperasian penerbangan komersial,” kata Pandu.
Setelah proving flight, kata Pandu, Citilink akan mengoperasikan rute penerbangan komersial ke Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta (HLP) setiap hari sekali penerbangan. Nantinya akan disusul oleh Batik Air pada 15 Mei 2019 dengan tujuan Samarinda, Palangkaraya, dan Cengkareng. “Untuk Lebaran, semua extra flight akan kita arahkan kesini (YIA),” katanya.
Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) memiliki runway sepanjang 3.250 meter dengan lebar 45 meter. Runway ini mampu didarati pesawat berbadan besar seperti Boeing 777-300 dan Airbus A380.
Adapun fasilitas Penyelamatan Kecelakaan Pesawat - Pemadam Kebakaran (PKP-PK) di YIA masuk ke dalam Kategori 8. Terminal saat ini luasnya mencapai 12.900 meter persegi dari total 210.000 meter persegi pada saat full operation akhir 2019 nanti.