Dia berharap para santri bisa memastikan kitab-kitab besar yang menjadi rujukan keilmuan yang diajarkan para ulama terdahulu bisa terus diajarkan seiring dengan tantangan yang dihadapi masing-masing ponpes.
"Ini bagian yang harus dikaji apakah turats atau kitab-kitab kuning klasik yang diajarkan di ponpes puluhan tahun yang lalu semakin berkembang atau justru semakin menyempit," kata Lukman.
Selain itu, Menag juga berharap kalangan ponpes, khususnya para santri mampu memberikan kontribusi pemikiran yang konstruktif bagimana nilai-nilai kebudayaan luhur bisa tetap dipertahankan tanpa tercerabut dari nilai keagamaan.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama Kamaruddin Amin, yang turut hadir dalam acara itu mengatakan kegiatan hari santri diarahkan untuk menstimulasi kemajuan pesantren sebagai tulang punggung keberagamaan dan keindonesiaan. Karena itu, kata dia, Muktamar ini megambil tema "Islam, Kearifan Lokal dan Tantangan Kontemporer". "Muktamar ini digagas karena persoalan kebangsaan dan keagamaan dewasa ini yang semakin kompleks," kata dia.
Dalam muktamar yang digelar Kemenag itu juga diselenggarakan forum-forum diskusi yang akan mempresentasikan 170 paper dari pesantren, mahasiswa, akademisi, dan peneliti keislaman yang membahas fenomena keislaman kekinian dalam kaitannya dengan pesantren.