Kisah Pangeran Diponegoro Dikhianati Patih dan Rakyat hingga Terserang Malaria 

Avirista Midaada
Lukisan Pangeran Dipnegoro.

Kebijakan Belanda dalam menurunkan pajak, mengurangi kewajiban kerja bakti, dan menaikan upah buruh harian di sekitar benteng, untuk mendorong para petani dan keluarga mereka tetap betah tinggal di dekat benteng itu. 

Alhasil pada September 1820, di tahun keempat perang terorganisasi melawan Belanda di daerah-daerah subur pangan di Jawa tengah bagian selatan akhirnya berakhir.

Ikatan rasa saling percaya dan kerja sama antara pasukan Pangeran Diponegoro dan penduduk desa setempat sudah rusak. Tanpa dukungan rakyat, tidak mungkin lagi Pangeran melancarkan perang gerilya. 

Di sisi lain, ini mempengaruhi nasib keselamatan Pangeran Diponegoro. Sang pangeran mulai berada di titik nadir. Pada 21 September 1829,

Pangeran Ngabehi, panglima paling senior yang tersisa, terbunuh bersama dua putranya dalam pertempuran sengit di Pegunungan Kelir, di perbatasan Bagelen - Mataram. 

Editor : Reza Yunanto
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Pertempuran Tegal dan Cilacap, Jejak Perlawanan ALRI Terhadap Agresi Militer Belanda 1947

57 tahun lalu

Kisah Kelam di Coban Jahe, 38 Pejuang Kompi Gagak Lodra Gugur usai Pengkhianatan Pribumi

57 tahun lalu

Perang Buleleng 1846 Meletus Dipicu Hukum Tawan Karang, Belanda Kuasai Istana Singaraja

57 tahun lalu

Mengerikan! Pemimpin Prajurit Belanda Tertembak Mata oleh Pasukan Pangeran Diponegoro

57 tahun lalu

Belanda Bangun 258 Benteng Lawan Pangeran Diponegoro, Semua Gagal Total!

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal