Upacara Tumplak Wajik, Ritual Menandai Dimulainya Grebeg Keraton Yogyakarta

erfan erlin
Salah satu prosesi Tumplak Wajik di Panti Pareden, Magangan, Keraton Yogyakarta. Upacara Tumplak Wajik ini dilakukan menandai dimulainya rangkaian upacara grebeg. (Foto Foto : Dok SINDOnews)

YOGYAKARTA, iNews.id- Upacara Tumplak Wajik, salah satu tradisi yang masih dipertahankan oleh Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat hingga kini. Ritual ini menjadi penanda dimulainya upara grebek di Keraton Ngayojokarto Hadiningrat.

Pengageng Tepas Dwarapura Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, KRT Jatiningrat menjelaskan makna dari Tumplak Wajik atau Numplak Wajik. Secara fisik memang me-numplak (meletakkan) wajik pada tempat yang telah disediakan. Biasanya upacara ini menandai dimulainya rangkaian upacara grebeg.

"Setiap grebeg kita mulai, pasti didahului dengan upacara Numplak Wajik ini," kata dia. 

Lelaki yang dikenal sebagai Romo Tirun ini menjelaskan Tumplak Wajik atau Numplak Wajik merupakan upacara yang menandai dimulainya proses merangkai gunungan, simbol sedekah raja kepada rakyat. Nantinya, gunungan tersebut akan diarak dan dibagikan kepada warga pada upacara grebeg. 

Dalam setahun Keraton Yogyakarta menggelar tiga kali upacara Grebeg Mulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad, Garebeg Sawal menandai akhir bulan puasa, dan Grebeg Besar untuk memperingati Hari Raya Idul Adha. Karena dalam setiap Garebeg tersebut keraton selalu mengeluarkan gunungan untuk dibagikan.

"Karena grebek dilaksanakan setahun tiga kali, maka dalam setahun tiga kali pula Keraton Yogyakarta menggelar upacara Numplak Wajik pada bagian dalam Gunungan Estri (perempuan)," ujarnya. 

Berbeda dengan gunungan yang lain, Gunungan Estri memiliki satu bakul Wajik yang kini disusun berlapis dengan Tiwul di dalamnya. Wajik adalah sejenis makanan terbuat dari ketan yang direbus dengan gula merah dan santan kelapa sedangkan Tiwul adalah makanan yang dibuat dari tumbukan singkong kering.

Wajik dan Tiwul ini sekaligus juga berfungsi sebagai pondasi bagi mustaka (bagian atas) gunungan. Kue-kue ketan yang menjadi bagian atas gunungan tersebut dipacak (ditancapkan) pada sujen (batang kecil panjang yang terbuat dari bambu).

Editor : Ainun Najib
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Keraton Yogya Berduka, Bagas Korban Tewas saat Glamping Ternyata Fotografer Tundha Yekti

57 tahun lalu

Sekeluarga Tewas di Temanggung, 1 Korban Mahasiswa UGM dan Fotografer Keraton Yogya

57 tahun lalu

Momen Tradisi Riyayan di Grahadi, Warga Jatim Antre Salaman dengan Khofifah

57 tahun lalu

Unik! Tradisi Tumpengan Warnai Lebaran di Blora, Warga Makan Bersama di Masjid

57 tahun lalu

Warga Purworejo Rela Mandi Hujan Rebut 7 Gunungan di Momen Isra Mikraj

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal