Persaingan era junior tak berhenti di antara Alwi dan Lanier saja. Rekan mereka, seperti Ayush Shetty dari India — juara US Open 2025 — dan Victor Lai dari Kanada — finalis Canada Open 2025 — juga menciptakan arena pembelajaran bagi Alwi.
“Bagus, menurut saya, Ayush Shetty... Even Victor Lai pun masuk final juga. Dan saya selalu notice gitu, seumuran saya, siapa yang sedang mengikuti turnamen di mana, itu bagus kok persaingan kayak gitu,” tuturnya.
Meteoriknya prestasi junior memberikan Alwi kesadaran akan kekuatan dan kelemahan pribadi, sekaligus memotivasinya untuk terus berkembang dan belajar dari yang terbaik.
“Persaingan kayak gitu... membuat saya juga lebih aware sama diri saya, lebih bisa menyadari apa yang menjadi kekurangan dan kelebihan saya,” katanya menutup pernyataan tentang rival seniornya.
Masuk ke babak kedua dan berhadapan langsung dengan Lanier bukan sekadar soal head-to-head. Ini juga soal legasi junior, pertumbuhan mental dan persiapan matang menjelang Olimpiade atau Kejuaraan Dunia level senior.
Alwi masih muda, baru 20-an, dengan fisik dan potensi luar biasa. Sementara Lanier, masing-masing membedakan strategi, agresivitas, serta pengalaman turnamen elite. Duel di Japan Open bisa menjadi salah satu titik balik karier salah satu, bahkan kedua pemain.