Pada paruh kedua musim, dia merasa semakin mampu menahan insting yang selama ini menjadi salah satu titik lemahnya. Perubahan tersebut bahkan memengaruhi kemampuan saat melewati tikungan.
“Saya lebih buruk di tikungan kiri dan lebih baik di tikungan kanan. Bagaimana itu bisa terjadi, saya tidak tahu! Saya masih cepat di tikungan kiri, tetapi saya benar-benar meningkat di tikungan kanan karena bisa mengendalikannya lebih baik dengan tubuh,” katanya.
Persaingan gelar turut memberikan dorongan mental. Marquez merasakan adrenalin dan kekuatan tambahan yang membantunya mencapai tingkat fokus lebih tinggi, mengelola berbagai situasi, serta terus mendekati batas kemampuan.
Namun, pengalaman sepanjang karier membuatnya sadar pendekatan impulsif tidak lagi bisa diandalkan.
“Melihat bagaimana perjalanan karier balap saya berlangsung, saya tidak bisa lagi bersikap impulsif. Saya tidak bisa terlalu meledak-ledak. Jika ingin memperjuangkan gelar dunia ini sampai akhir, saya harus berkepala dingin dan jauh lebih penuh perhitungan,” ujarnya.