Artinya: "Jika tiba waktunya malam Nisfu Syaban, maka beribadahlah di malamnya dan puasalah di siangnya, karena sesungguhnya Allah Ta'ala menurunkan rahmat-Nya mulai tenggelamnya matahari (Maghrib) di langit dunia dan berfirman, 'Siapa yang meminta ampun akan Aku ampuni. Siapa yang meminta rezeki akan Aku beri rezeki. Siapa yang terkena musibah akan aku sembuhkan. Siapa yang minta ini dan itu seterusnya, sampai waktu terbitnya fajar (matahari)." (HR. Ibnu Majah).
Shalat tahajud yang dilakukan di luar malam Nisfu Sya’ban memiliki nilai yang sama dengan shalat tahajud pada malam tersebut. Abdullah bin Al Mubarak rahimahullah pernah ditanya tentang turunnya Allah pada malam Nisfu Sya’ban. Beliau menjawab, "Wahai orang yang lemah! Apakah yang engkau maksudkan adalah malam Nisfu Sya’ban? Ketahuilah bahwa Allah turun setiap malam (bukan hanya pada malam Nisfu Sya’ban saja)." Pernyataan ini diriwayatkan oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah (92).
Al ‘Aqili rahimahullah juga menjelaskan, "Hadits-hadits tentang turunnya Allah pada malam Nisfu Sya’ban bersifat layyin (menuai kritikan). Namun, riwayat yang menyebutkan bahwa Allah turun setiap malam terdapat dalam hadits-hadits shahih. Malam Nisfu Sya’ban termasuk dalam keumuman hadits tersebut, insya Allah." Pernyataan ini disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3/29). (Lihat Fatwa Al Islam Sual wa Jawab, no. 49678).
Itulah ulasan mengenai apa itu Nisfu Syaban? Semoga bermanfaat!