Sejumlah drill diberikan kepada para pemain muda, mulai dari ball touch, juggling, gerakan mengecoh, step work, hingga teknik yang dapat diterapkan dalam pertandingan. Setelah itu, peserta menguji kemampuan mereka melalui simulasi pertandingan.
Sebanyak 74 peserta dibagi menjadi delapan tim yang bermain di empat lapangan secara bersamaan. Format pertandingan disesuaikan dengan jumlah pemain, sementara Iwabuchi dan Miyama ikut dalam setiap rotasi sehingga peserta mendapat pengalaman bermain secara langsung bersama kedua legenda tersebut.
Mana Iwabuchi memberikan perhatian khusus terhadap kemampuan dasar pemain muda. Mantan pemain Arsenal Women itu menilai kontrol bola dan akurasi tembakan menjadi fondasi penting yang perlu terus diasah sejak usia dini.
"Dalam sesi kali ini, saya fokus mengajarkan teknik dasar seperti kontrol bola yang presisi dan akurasi tembakan, karena itu adalah kunci utama seorang pesepakbola di level mana pun. Saya melihat mereka sangat semangat, ada power, dan mereka sangat enjoy untuk bermain sepak bola dan saya kira itu sangat bagus. Saya sejak kecil setiap hari memegang bola. Saya main bola, maka dari itu saya bisa sampai di posisi seperti sekarang. Maka saya kira peserta di sini pun jika main bola setiap hari, pegang bola setiap hari, mereka juga bisa akan menjadi seperti saya," ujar penyerang yang mengawali kariernya di klub Nippon TV Beleza tersebut.
Sementara itu, Aya Miyama menekankan pentingnya lingkungan yang mendukung perkembangan pemain putri. Menurut mantan kapten Timnas Jepang tersebut, pemain muda perlu berani belajar dari kesalahan, menjaga konsistensi latihan, dan mendapat wadah kompetisi yang berkelanjutan.