“Namun, menurut saya Alex adalah pemain yang jujur. Dia berusaha mengejar bola, semua orang bisa langsung melihat ada tarikan yang sangat jelas,” tuturnya.
Dalam penjelasan mengenai insiden tersebut, tarikan Timber dinilai memiliki kontak minimal dan hanya berupa tarikan singkat pada kaus, bukan pelanggaran berupa penahanan yang berlangsung terus-menerus. Faktor itu menjadi salah satu alasan permainan tetap dilanjutkan.
Mantan asisten wasit Premier League, Darren Cann, juga menilai Timber mengambil risiko besar saat menarik kaus Isak. Dia menyebut keputusan penalti sebenarnya bisa saja diberikan dalam situasi berbeda.
“Timber mengambil risiko besar dengan menarik kaus. Pada hari lain, keputusan penalti bisa saja diberikan,” kata Cann kepada BBC Sport.
“Situasinya benar-benar berada di batas. Pelanggaran itu harus berupa penahanan yang berlangsung terus-menerus. Ada yang akan mengatakan tarikan itu berlangsung cukup lama, ada juga yang menilai tidak. Namun, menarik untuk melihat Isak bahkan tidak melakukan protes,” ujarnya.
Iraola juga mengakui permintaan maaf dari Pro Ref, badan yang menangani perwasitan Premier League, tidak akan mengubah apa pun terkait insiden tersebut. Dia tetap kecewa karena Liverpool kehilangan kesempatan mendapatkan penalti.
Selain insiden Isak dan Timber, Liverpool juga sempat meminta penalti setelah Cody Gakpo terjatuh di kotak terlarang akibat tekanan Christos Tzolis. Namun, wasit kembali tidak memberikan hadiah tendangan 12 pas untuk The Reds.