Ferry Paulus menjelaskan skema baru tersebut dibuat agar klub tetap memiliki motivasi memberikan ruang bagi talenta muda. Besaran insentif nantinya akan dihitung berdasarkan usia pemain serta jumlah kesempatan bermain yang diberikan.
"Penggantinya akan diberikan insentif, melebihi dari insentif-insentif yang biasa bagi klub yang menggunakan pemain dengan menit bermain secara gradual kepada pemain-pemain usia muda," ujar Ferry.
Menurut Ferry, klub yang memainkan pemain dengan usia lebih muda akan mendapatkan nilai insentif lebih besar. Dia menegaskan semakin muda pemain yang diberikan kesempatan tampil, semakin besar pula peluang klub memperoleh tambahan keuntungan.
"Semakin muda semakin baik," kata Ferry.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi I.League untuk mempercepat regenerasi pemain sepak bola Indonesia. Klub tidak hanya dituntut mengejar prestasi, tetapi juga ikut menciptakan pemain muda berkualitas untuk masa depan.
Ferry menyebut penyusunan aturan tersebut terinspirasi dari perkembangan sepak bola di sejumlah negara yang mulai memberikan kepercayaan lebih besar kepada pemain muda.
"Golden age-nya sudah betul-betul bergeser. Kita ingin punya Lamine-Lamine (Lamine Yamal) yang lain juga sehingga kita memberikan insentif yang betul-betul ekstra," tutur Ferry.
Dengan tambahan subsidi dan skema insentif pemain muda, I.League berharap klub Super League memiliki fondasi lebih kuat. Kompetisi musim 2026-2027 diharapkan tidak hanya menghasilkan persaingan yang lebih sehat, tetapi juga melahirkan talenta baru untuk sepak bola Indonesia.