Bang Sap menilai limbah elektronik memiliki risiko yang lebih serius karena dapat mengandung bahan berbahaya seperti timbal dan merkuri. Zat tersebut bisa mencemari lingkungan apabila sampah elektronik dibakar atau dibuang sembarangan.
“Terbesar di Asia Tenggara dan cuma 17 persen yang dikelola dengan benar. Sisanya dibakar atau dibuang. Padahal sampah elektronik tadi mengandung timbal dan merkuri yang justru terbukti jauh lebih berbahaya dibanding gelombang bluetooth,” ujarnya.
Dia pun mengingatkan masyarakat agar tidak langsung membuang TWS yang sudah rusak ke tempat sampah biasa. Perangkat elektronik bekas sebaiknya dikumpulkan dan disalurkan melalui fasilitas pengelolaan e-waste.
“Jangan buang TWS lama ke tempat sampah biasa. Kumpulin satu wadah sekalian HP mati dan kabel rusak. Lalu antar ke dropbox e-waste terdekat. Dinas Lingkungan Hidup DKI udah nyediain titik di halte TransJakarta sampai stasiun KRL, bahkan ada jemput gratisnya,” katanya.
Bang Sap menegaskan, gaya hidup ramah lingkungan bukan berarti harus menjauhi teknologi, melainkan bertanggung jawab terhadap barang elektronik yang digunakan hingga akhir masa pakainya.
“Jadi yang bikin keputusanmu bener atau enggak bukan ketakutan radiasi yang belum pasti, tapi juga kemana perginya TWS yang enggak mau kamu tinggalin. Percuma takut radiasi kalau yang lama malah numpuk di laci terus dibuang sembarangan,” ujarnya.