Perubahan tersebut dapat memicu berbagai keluhan, mulai dari nyeri leher, pegal di bahu, sakit kepala, hingga saraf kejepit apabila bantalan tulang menekan jaringan saraf.
Dia menilai tingginya durasi screen time menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya kasus text neck. Kondisi ini banyak terjadi pada anak-anak dan remaja yang menghabiskan waktu berjam-jam menggunakan ponsel, tablet, maupun perangkat elektronik lainnya.
"Kalau kita perhatikan anak-anak kita, screen time sehari itu bisa 7 jam, bahkan belasan jam," katanya.
Dr. Mahdian mengingatkan posisi tubuh yang monoton saat menggunakan gadget menjadi kebiasaan baru yang berdampak buruk bagi kesehatan tulang belakang. Kurangnya aktivitas fisik dan minimnya peregangan membuat otot serta sendi leher menerima beban terus-menerus.
"Nah, ini yang menjadi habit baru, sehingga itu banyak cedera di leher dan terjadi saraf kejepit," ucapnya.
Untuk mengurangi risiko tersebut, masyarakat disarankan membatasi durasi penggunaan gadget, mengubah posisi tubuh secara berkala, serta melakukan peregangan setiap 30 hingga 60 menit. Posisi layar juga sebaiknya sejajar dengan pandangan mata agar leher tidak terus-menerus menunduk sehingga tekanan pada tulang belakang dapat diminimalkan.