JAKARTA, iNews.id - WhatsApp kini tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga mulai dimanfaatkan sebagai kanal pembelajaran bagi pekerja. Pendekatan ini dinilai dapat membantu pekerja yang memiliki keterbatasan akses terhadap pelatihan konvensional.
Studi regional International Labour Organization (ILO) pada 2026 mencatat hanya 12,6 persen penduduk usia kerja di Asia dan Pasifik yang mengikuti kegiatan pembelajaran terstruktur. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya model pembelajaran yang lebih fleksibel, mudah diakses, dan modular.
Kebutuhan terhadap model pembelajaran baru semakin relevan seiring perubahan dunia kerja yang dipengaruhi perkembangan teknologi, regulasi, kebutuhan keterampilan, hingga tuntutan praktik bisnis yang bertanggung jawab.
Bagi pekerja frontline yang berada di pabrik, perkebunan, atau lokasi kerja yang tersebar, akses terhadap email perusahaan, komputer, maupun platform pembelajaran internal tidak selalu tersedia secara rutin. WhatsApp kemudian dapat menjadi salah satu kanal yang lebih dekat dengan keseharian mereka.
“Tantangannya bukan sekadar bagaimana menyampaikan informasi kepada pekerja. Yang lebih penting adalah menciptakan cukup banyak kesempatan bagi mereka untuk memahami, merespons, dan menghubungkan informasi tersebut dengan apa yang mereka alami di tempat kerja," ujar Co-Founder dan CEO Pingtar, Arvinda Tripradopo dalam keterangan pers, Kamis (20/8/2026).