Selain pembelajaran pekerja, pendekatan serupa juga digunakan dalam program bersama berbagai LSM dan badan riset. Program tersebut disebut telah menjangkau hampir 10.000 keluarga berpenghasilan rendah, termasuk pembelajaran mengenai transisi energi yang dikembangkan dalam lima bahasa.
Pembelajaran di tempat kerja selama ini banyak dilakukan melalui sesi pelatihan tertentu, modul daring, program orientasi, atau pelatihan tahunan. Namun, untuk isu seperti kekerasan dan pelecehan berbasis gender (GBVH), keselamatan kerja, mekanisme pengaduan, etika, dan kepatuhan, pemahaman materi hanya menjadi tahap awal.
Dalam penguatan human rights due diligence, ILO juga menekankan pentingnya dialog dan kerja sama antara manajemen dengan pekerja sebagai bagian dari upaya memahami serta menangani risiko di tempat kerja.
"Pelatihan seharusnya bukan akhir dari sebuah diskusi mengenai suatu topik di tempat kerja. Agar pekerja merasa percaya diri dalam menerapkan apa yang telah dipelajari atau menyampaikan kekhawatiran, perlu ada ruang agar diskusi tersebut terus berlangsung. Kanal digital yang familiar digunakan setiap hari dapat membantu membuat interaksi ini lebih rutin, mudah diakses, dan relevan dengan pengalaman pekerja sehari-hari,” ujar Arvinda.
Dalam kolaborasinya dengan ILO, Pingtar telah mendukung program peningkatan kesadaran dan keterlibatan terkait GBVH bagi lebih dari 35.000 pekerja di sektor alas kaki di Indonesia.
Program bersama berbagai perusahaan multinasional dan nasional di sektor FMCG, perkebunan, manufaktur, dan bidang lainnya juga mencakup isu GBVH, keselamatan dan kesehatan kerja, grievance awareness, compliance, governance, ethics, serta asesmen terkait hak asasi manusia.
Pemanfaatan WhatsApp untuk pembelajaran menunjukkan perubahan cara perusahaan membangun komunikasi dengan pekerja. Pembelajaran tidak lagi harus dipandang sebagai aktivitas yang selesai ketika sebuah modul atau sesi pelatihan dituntaskan.