Dengan dukungan teknologi diagnostik modern, dokter kini dapat melakukan pemetaan kondisi mata secara lebih detail sebelum operasi dilakukan. Hasil pemeriksaan tersebut kemudian menjadi dasar dalam menentukan jenis lensa dan metode operasi yang paling sesuai bagi pasien.
Di tengah tingginya angka katarak secara global, kehadiran teknologi seperti FLACS dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. World Health Organization (WHO) mencatat katarak masih memengaruhi lebih dari 100 juta orang di dunia pada 2020, dengan sekitar 17 juta kasus menyebabkan kebutaan.
"Dulu, operasi katarak sering dipahami sebatas mengangkat lensa yang keruh. Kini, dengan teknologi modern seperti FLACS dan pilihan lensa tanam yang semakin beragam, pasien tidak hanya dibantu untuk melihat kembali, tetapi juga mendapatkan kualitas penglihatan yang lebih sesuai dengan aktivitas dan gaya hidupnya," tutur dr Nina.