Sebagian bisa jatuh kembali sebagai hujan abu di daratan. Sebagian lainnya dapat mengendap di laut. Ada pula partikel yang terus terbawa angin menuju wilayah yang lebih jauh sebelum akhirnya turun ke permukaan.
Menurut USGS, pola dan ketebalan endapan abu dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain ukuran awal partikel, tinggi kolom erupsi, laju dan durasi letusan, serta kondisi angin. Secara umum, endapan abu juga semakin menipis seiring bertambahnya jarak dari gunung api.
Dengan kata lain, perjalanan abu Anak Krakatau dapat digambarkan sebagai sebuah siklus.
Gunung meletus, abu terlontar ke atmosfer, terbawa angin, bergerak mengikuti dinamika cuaca, lalu perlahan mengendap kembali di daratan maupun perairan.
Daryono menjelaskan, semakin kuat sebuah letusan, semakin tinggi pula kemungkinan abu halus terlempar ke lapisan udara atas.