"Pura ulun danu berarti pura di atas danau dan dapat dijabarkan sebagai pura yang didirikan sebagai tempat pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa dan dewa-dewa pemelihara suatu danau. Beberapa lontar menyebutkan Pura Ulun Danu Beratan menjadi tempat pemujaan kepada Sang Hyang Widhi dalam prabawanya sebagai Dewa Kemakmuran," tulis Instagram @bary_sukarta, dikutip Sabtu (18/1/2020).
Sejarah Pura Ulun Danu dapat diketahui berdasarkan data arkeologi dan data sejarah yang terdapat pada lontar Babad Mengwi. Berdasarkan data arkeologi, di halaman depan pura ini terdapat peninggalan benda-benda bersejarah berupa Sarkofagus batu dan papan batu yang diperkirakan sudah ada sejak zaman megalitikum (sekitar 500 tahun sebelum Masehi).
Jadi bisa diperkirakan, Pura Ulun Danu ini sudah digunakan untuk mengadakan ritual keagamaan sejak zaman tradisi megalitikum. Babad Mengwi, I Gusti Agung Putu, pendiri Kerajaan Mengwi telah mendirikan Pura Ulun Danu sebelum mendirikan Pura Taman Ayun.
Tepatnya sebelum Tahun Saka 1556. Sejak pendirian pura tersebut, Kerajaan Mengwi menjadi damai dan sejahtera, sehingga warga menjuluki beliau I Gusti Agung Sakti.
Pura Ulun Danu didirikan sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Widhi Wasa dan dewa-dewa pemelihara suatu danau. Pura ini juga berfungsi sebagai tempat pemujaan Dewi Laksmi, dewi kesuburan dan keindahan yang bersemayam di Danau Beratan.